Sunday, August 20, 2006

Pengamen Nasionalis

Keluarga kami sering kali dengan cepat berteriak maaaaaaaaaf bila mendengar nyanyian pengamen di pintu pagar. Kecuali pada saat-saat seperti ini:

Saya: Punya uang seribuan?
Istri saya: Untuk apa?
Saya: Itu ada tukang ngamen di luar.
Istri saya: Kok banyak banget, ngasih seribu?
Saya: Abis, lagunya enak. Lagu Sinanggartullo…..
Istri saya: dasaaaaar…..

Keesokan harinya pengamen yang sama datang lagi.
Istri saya: Nih, Marty (anak saya) kamu kasih tukang ngamennya. (sambil memberikan Rp1000-an).
Saya: Lho, kok banyak banget?
Istri saya: Abis, lagunya enak. Walang Kekek.
Saya: Dasaaaaar….

Keesokan harinya lagi, pengamen yang sama datang lagi.
Marty: Ma, minta Rp2000 dong.
Istri saya: Untuk apa?
Marty: Itu ada tukang ngamen di depan
Saya dan Istri saya: Lho, kok bayarnya jadi dobel, emang dia nyanyi apaan?
Marty: Dia nyanyi lagu Batak, tapi orangnya pake blangkon…
Saya dan Istri saya: #@^%*@+

Mikirnya Makanan Mlulu

Nasiam, pada bahasa (Batak) Simalungun berarti Anda, dalam bentuk jamak. Misalnya, dalam kata pembuka ketika kita diminta bicara, kita sudah lazim mendengar pernyataan berikut:

Nasiam Bapa, Inang….
Artinya: Bapak-bapak, ibu-ibu….

Nasiam hasoman
Artinya: Anda para kawan-kawan (hasoman)

Nasiam nahinaholongan
Artinya: Anda semua yang terkasih (nahinaholongan)

Namun, istri saya yang orang Jawa kelahiran Jakarta, rupanya terlalu sering dikendalikan oleh latarbelakang pendidikannya di bidang tataboga ketimbang penghayatannya sebagai istri seorang Batak norak seperti saya dalam menyimak kata-kata yang tidak dia mengerti. Akibatnya selalu dia coba-coba mengasosiasikan kata-kata yang membingungkannya itu dengan makanan. Tak mengherankan bila pernah terjadi dialog seperti ini.

Istri saya: Setahu saya, setiap kali kita pulang kampung makanan yang disuguhkan tidak banyak variasinya.
Saya: Maksud kamu?
Istri saya: Yah, nasinya paling nasi putih. Kadang-kadang nasi merah. Kalau banyak sisa, baru digoreng jadi nasi goreng.
Saya: Trus?
Istri saya: Tapi kok saya dengar orang-orang pada bicara nasi yang macam-macam. Itu dimana kita kalau mau mendapatkannya? Susah ya bikinnya?
Saya: Saya nggak ngerti kamu ngomong apa.
Istri saya: Lho, kamu nggak dengar? Itu setiap kali ada acara kumpul-kumpul, semua orang pasti ngomong nasi. Nasi Am lah, nasi am inang lah, nasi am bapak lah, nasi am hasoman lah, nasi am naposo (pemuda) lah… Banyak betul jenis nasinya. Tapi kok yang disuguhin hanya itu-itu saja?
Saya: (garuk-garuk kepala) Ntar deh, kalau ada waktu lowong, saya terangkan apa arti nasiam. Mbok sekali-sekali pikirannya dijauhkan dari makanan, kenapa sih? :-)

Salah dan Boros

Beras punya arti penting dalam ritual adat Batak. Dalam aneka upacara, ia sering seolah-olah dilempar ke awan sambil si pelempar berteriak, "Horas….Horas….Horas….." yang diikuti para hadirin dengan teriakan serupa.

Juga dalam memberikan selamat, baik kepada pengantin mau pun kepada si tuan rumah yang punya hajat, seringkali ada upacara meletakkan beras di kepala pasangan itu. Sambil meletakkan beras di atas kepala, biasanya disampaikan pula petuah dan ucapan-ucapan berkat.

Putri saya, Marty, yang di sekolahnya punya guru yang disiplin mengajar penghematan, rupanya punya pandangan aneh mengenai ritual itu.

Marty: Pa, beras sekarang makin mahal kan?
Saya: Ya. Kenapa?
Marty: Bahasa Bataknya beras, boras kan Pa?
Saya: Ya. Kenapa?
Marty: Nah, jangan marah ya Pa?
Saya: IYAAAA. Kenapa?
Marty: Orang Batak itu boros. Dan sudah boros, salah pula.
Saya: Kenapa?
Marty: Udah tahu beras mahal, masih dibuang-buang. Udah gitu, ngomongnya salah pula. Mestinya kan Boras….Boras….Boras…., bukan Horas…..Horas…..Horas…..
Saya: *&&@$*%*%((Sambil berpikir dalam hati, anak sekecil ini masih harus ditatar nih tentang filosofi beras dan horas…)

Jadi Konglomerat karena Nama

Marty: Pa, boleh nggak nanya?
Saya: Boleh
Marty: Dulu Papa orang kaya ya?
Saya: Jangan ngeledek. Kamu dapat cerita bo'ong itu dari siapa?
Marty: Teman-temanku bilang. Katanya, Papa dulunya punya bisnis dimana-mana.
Saya: Ah, yang benar.
Marty: Ya. Katanya Papa punya gedung besar. Namanya Eben Ezer. Punya gereja, namanya Eben Ezer. Punya tukang jahit, namanya Eben Ezer. Juga punya bisnis tambal ban, namanya Eben Ezer. Sekarang aja jadi miskin, jadi wartawan yang bisanya cuma ngetik di belakang komputer.
Saya: (Sambil agak kesal, menyandang nama yang sudah jadi 'kodi-an,' diketeng dimana-mana). Oh, itu belum seberapa Nak. Kalau nanti kita pulang ke kampung Papa, banyak sekali Eben Ezer di sana. Tukang jual mi juga ada. Toko mainan anak-anak juga ada yang namanya Eben Ezer…
Marty: Horeeeeeeeee, Papaku konglomerat…..

Wednesday, July 26, 2006

Beda Tukang Pecel dan Istri

Suatu malam di depan TV

Istri saya: Dulu pernah kepikir nggak punya istri orang Jawa seperti saya?
Saya: Pernah.
Istri saya: Kapan?
Saya: Waktu kecil. Sewaktu masih SD
Istri saya: (dengan wajah bersemangat) Oh ya? Cerita dong.
Saya: Ada ibu-ibu tukang pecel di pasar. Jualannya enak-enak. Ada pecel, gado-gado, rempeyek,getuk, cenil, klanting dan banyak lagi. Dalam hati saya mikir, enak kali ya punya istri orang Jawa. Makanan di rumah pasti enak-enak terus.
Istri saya: (dengan wajah asam) Oh, gitu ya. Jadi saya disamain dengan tukang pecel….
Saya: Salah sendiri kenapa nanya.

Beberapa hari kemudian di suatu hari Minggu, menjelang makan siang. Di meja makan sudah ada pecel, gado-gado, rempeyek, getuk, cenil, klanting dan banyak lagi.

Saya: Wah, asyik banget nih makanannya.
Istri saya: Ayo dimakan. Udah capek nih bela-belain bangun subuh-subuh pergi ke pasar buat nyiapinnya.
Saya: Gitu dong. Itu baru namanya a Javanese wife. Habis berapa nih belanja bikin ginian?
Istri saya: Tenang aja. Nggak minta tambah uang belanjaan kok, biar pun udah nyediain segini banyak makanan. Ayo, makan.
Saya: (sambil bersendawa setelah kekenyangan) Enak benar. Berapa lama kamu nyiapainnya?
Istri saya: Yang lama sih belanja ke pasarnya.
Saya: Oh ya? Masa sih?
Istri saya: Ya iyalah. Wong yang bikin tukang pecel di pasar kok. Aku cuma beli dan mindahinnya ke piring-piring di meja ini… (sambil ketawa ngeledek, seperti berkata, nah lo, 1-0 untuk gue)
Saya: Wah, sialan… kirain kamu yang bikin.
Istri saya: Sekarang udah tahu kan, beda istri dan tukang pecel?
Saya: Lho, apa bedanya?
Istri saya: Tukang pecel cuma bisa bikin pecel. Nggak bakal bisa dan nggak bakal gue izinin nemenin kamu makan sambil ngobrol gini.
Saya: Ya…ya…ya. I got the message.

(c) eben ezer siadari

Tuesday, July 25, 2006

Pulang Kampung

Di atas bis menuju kampung halaman saya, di Sarimatondang, empat jam perjalanan dari Medan.

Putri saya: Kok nggak nyampe-nyampe sih Pa?
Istri saya: Sabar nak. Sebentar lagi juga nyampe.
Saya: Jangan mikir mau nyampe aja. Lihat kanan-kiri, itu banyak yang bagus-bagus buat dilihat. Sawah, pohon, kerbau….
Putri saya: Dari tadi udah lihat itu. Udah bosan
Istri saya: Bayangin aja kamu sedang naik sepeda. Kamu kan nggak pernah bosan kalau naik sepeda. Sampai jauh juga gak ngeluh. Sampai sore gak pulang-pulang…
Putri saya: Oh gitu ya? Jadi dulu Mama sering naik sepedanya sampai ke sini-sini, gitu? Pantes aja nemu Papa yang kampungan kayak gini…
Istri saya: (sambil memandangi saya seolah berkata, “Nah, itu tuh anak lu…”)

Sunday, July 23, 2006

Telan Dulu, Baru Ngomong

Istri saya paling cerewet dalam mengajarkan tatakrama Jawa, terutama di meja makan. Dan punya seorang putri yang masih kelas 2 SD,adalah paling merepotkan untuk mengajarkan hal itu. Apalagi kalau sang putri sudah punya bakat memanipulasi tatakrama itu. Misalnya, ketika suatu hari di meja makan…

Istri saya: Nak, kalau mau ngomong, telan dulu makanannya, baru ngomong. Jangan sambil makan sambil ngomong. Nggak baik. Pamali.
Putri saya: Iya deh.

Sore-sore keesokan harinya, tukang jual es krim lewat.

Putri saya: Ma, aku punya sesuatu yang mau diomongin. Tapi beli es krim dulu.
Istri saya: (mikir serius, mengantisipasi jangan-jangan ada masalah di sekolah putrinya). Mau ngomong apa sih?. Ya udah, beli sana….

Setelah beberapa menit dan putri saya masih asyik juga dengan es krimnya, istri saya tampaknya sudah tidak sabar.

Istri saya: Katanya mau ngomong. Ayo, ngomong dong.
Putri saya: (diam, sambil terus menyedot es krimnya).
Istri saya: Ayo, cerita dong. Katanya tadi mau cerita
Putri saya: (setelah menyelesaikan sedotan terakhir es krimnya). Gini ya, Ma? Jangan marah ya? Kan Mama bilang, kalau mau ngomong harus ditelan dulu. Nah, tadi saya sudah telan es krimnya. Sekarang, saya mau ngomong: terimakasih ya Ma, sudah beliin saya es krim….. (sambil kabur dengan sepeda bututnya)..
Istri saya: (mikir, itu pasti ketularan dari Papa-nya yang wong Batak norak)!

(c) eben ezer siadari

Saturday, July 22, 2006

Orang Batak Tidak Pernah Masak

Seorang Batak norak seperti saya, di lingkungan keluarga besar mertua yang orang Jawa, rupanya masih tetap mengundang rasa ingin tahu. Setiap kali saya hadir di arisan keluarga yang sekali sebulan, ada saja pertanyaan yang secara spesifik menjadi langganan diarahkan kepada saya.

Misalnya, ketika suatu hari arisan di rumah Om A, ketika semuanya sedang duduk menikmati makan siang dan lauknya adalah rawon, terjadi dialog seperti ini….


Bu De X: Dek, di mBatak sono, ada nggak makanan kayak gini…
Saya: Ada Bu De, kalau kita pergi ke pasar, selalu ada yang jual.

Bulan berikutnya, ketika arisan di rumah Om B, ketika disuguhi nagasari dan wedang jahe…

Bu De Y: Dek, di mBatak sono, ada nggak makanan kayak gini…
Saya: Ada Bu De, kalau kita pergi ke pasar, selalu ada yang jual.

Bulan berikutnya, ketika arisan di rumah Om C, ketika disuguhi rujak cingur dan es dawet….

Bu De Z: Dek, di mBatak sono ada nggak makanan kayak gini…
Saya: Ada Bu De, kalau kita pergi ke pasar, selalu ada yang jual.

Di jalan pulang, ketika saya dan istri sudah kelelahan, putri saya yang kecil akhirnya nyelutuk. Rupanya dia nguping juga jawaban-jawaban saya atas pertanyaan itu.
Putri saya: Emang orang Batak di kampung Papa nggak ada yang bisa masak ya…
Saya: Kenapa?
Putri saya: Kok semua-semua makanan harus dibeli di pasar?
Saya: *&^%%$$#!@!!

Friday, July 21, 2006

Yang

Sepulang berkunjung dari rumah seorang kerabat….

Saya: Harmonis banget ya keluarga Pak De Ronggo itu…
Istri saya: Ya iyalah. Sudah 30 tahun kawin, kaya, punya cucu segitu banyak, anak-anaknya pada hormat dan patuh, apa lagi yang kurang…
Saya: Ya iya?. Tapi apa cara mereka memanggil Pak De dan Bu De itu nggak berlebihan?
Istri saya: Maksud kamu?
Saya: Semua orang memanggilnya sayang. Anaknya bilang: “Yang, matur nuwon…” Cucunya juga begitu: “Yang, aku naik kelas Yang.” Menantunya ikut-ikutan: “Yang…pareng…”
Istri saya: (dengan wajah seperti berkata: “wah, telmi banget nih suami gue…”) Dasar orang Batak norak lu. Itu bukan sayang-sayangan. Itu maksudnya ‘Eyang.’ Dipendekin jadi ‘Yang.’ Ah, payah lu.
Saya: ???!!!*#@@!

Wednesday, July 19, 2006

Tak Ada yang Mau Mengalah

Salah satu keindahan (atau keburukan, tergantung dari sisi mana Anda melihat) hidup serumah dengan wanita dari latarbelakang budaya berbeda adalah menemukan ketidaksepakatan dalam banyak hal. Dan, kita tampaknya harus sepakat untuk membiarkan ketidaksepakatan itu tetap ada.

Misalnya soal sebuah benda bulat kecil yang lunak, seukuran kuluman orang dewasa. Warnanya umumnya hijau, terbuat dari tepung ketan, bagian luarnya dilapisi kelapa parut. Istri saya dan kebanyakan orang Jawa, menyebutnya klepon.

Tapi saya tak setuju. Sebab sejak kecil, di kampung halaman saya Sarimatondang, kami menamainya onde-onde. Bahkan orang Jawa di Sarimatondang pun menamainya onde-onde.

“Tidak,” kata istri saya. Onde-onde bentuknya lain. Memang bulat, tetapi lebih besar, lebih kering dan warnanya biasanya coklat kekuning-kuningan berlapis wijen.

“Tidak,” kata saya, sambil mengeluarkan jurus pamungkas. Yakni sebuah lagu di Sekolah Dasar, yang menggambarkan dengan jelas onde-onde itu:

Enak lah onde-onde buah Melaka
Kalau salah memakan terpancar gulanya
Kepandaian kesehatan bila tak satu jalannya
Serupa dengan lampu yang tak cukup minyaknya..


“Tidak,” istri saya balik menjawab. Sebab menurut dia, di SD nya dulu tidak diajarkan lagu itu.

Oke. Kita akhirnya sepakat untuk tidak sepakat. Setiap kali kami belanja ke Carrefour, dan ibu mertua berpesan kepada kami untuk membelikan cemilan kesukaannya, saya tahu, itu adalah onde-onde. Dan ini onde-onde versi istri saya. Bukan onde-onde versi saya.

(c)eben ezer siadari

Tuesday, July 18, 2006

Ngabisin Pulsa

Istri saya: Pa, yang paling kamu tak suka punya mertua orang Jawa itu apa?
Saya: Ah, gak mau jawab. Nanti terjadi perang.
Istri saya: Nggak kok. Aku janji. Pengen tau aja.
Saya: Gak ah. Gak percaya. Janjinya pasti bakal dilanggar.
Istri saya: Benar kok.
Saya: Benar?
Istri saya: Ya, iya.
Saya: Yang paling saya tak suka, kalau ngomong lambaaaaaaat banget.
Istri saya: Lho, malah bagus kan? Jadi kita bisa nangkap dengan jelas apa yang dia maksud.
Saya: Jelas sih jelas. Tapi pulsa saya jadi abis. Sebab, maksud saya cuma nanya apa kabar, eh jawabnya lama dan paaaaanjang.
Istri saya: Dasar Batak norak lu…..
Saya: Eit….. kan udah janji nggak bakal perang…

(c) eben ezer siadari

Monday, July 17, 2006

Panggilan Aneh

Saling ngenyek adalah bagian dari hidup dalam perkawinan campuran.
Misalnya….

Istri saya: Kurang ajar benar orang Batak. Om saya masih hidup, sehat, gemuk, eh, kok tega-teganya memanggilnya Tulang.
Saya: Orang Jawa juga sudah buta warna, kali. Sudah jelas-jelas saya ini masih hidup Punya mata, punya telinga. Dan, ehm, nggak jelek-jelek amat lah bila dibandingkan dengan wong Jawa seperti Tessy. Eh, kok tega-teganya menyebut saya Mas.

Skor sementara…. 1:1

(c)eben ezer siadari